Pelajar Progresif Temanggung

"MAHASANTRI DALAM PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL DAN IMPLEMENTASINYA DI LINGKUNGAN KAMPUS" (Hudatun Nurrohmah Gemawang)

Oleh : IPNU-IPPNU Temanggung, 06/02/2019

O 1avomuu4m6uo1p8a1d241rrb1sl21a 

MAHASANTRI DALAM PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL DAN IMPLEMENTASINYA DI LINGKUNGAN KAMPUS

Makalah ini disusun guna diikutsertakan dalam; Lomba Karya Tulis Ilmiah

Penanggung Jawab: Pimpinan Cabang Temanggung

 

 

 

Disusun Oleh

Hudatun Nurrohmah

 

IPNU-IPPNU PIMPINAN ANAK CABANG GEMAWANG

PIMPINAN CABANG TEMANGGUNG

2018

 

  1. PENDAHULUAN
  2. Introduction

Pesantren yang dikenal sebagai wadah atau tempat, media yang memberikan pendidikan non formal maupun formal, dimana proses pembelajaran serta materi pembelajarannya lebih fokus kepada nilai-nilai keagamaan. Subjek yang dididik dalam ranah ini disebut, Santri. Dengan pengajarannya yang condong pada penekanan perlindungan tradisi serta nilai moral, membuat para santri cenderung memiliki karakter lebih lembut dan atau menghargai pada budaya yang ada. Walaupun demikian, bukan menutup kemungkinan bahwa para santri lantas anti bersosial. Dalam pembelajarannya, pondok pesantren tetap mengikuti perkembangan zaman dan peka terhadap arus globalisasi. Namun, tidak menghilangkan tradisi yang ada.

Pada era ini, hampir separuh dari presentase siswa di sekolah-sekolah di dominasi oleh para santri, terlebih lingkungan universitas. Tidak jarang ditemukan mahasiswa yang juga belajar di pesantren dalam ranah ini.   Santri dengan status siswa dan mahasiswa jelas memiliki perbedaan yang mencolok. Apabila siswa yang menjadi santri akan mendapat peraturan begitu ketat di pondok pesantrennya seperti; tidak diijinkan pulang lebih dari jam 6 sore, tidak diijinkan membawa kendaraan dan tidak diijinkan membawa ponsel atau smartphone. Maka, santri yang juga merangkap menjadi mahasiswa memiliki peraturan yang lebih mudah, seperti; diperbolehkan membawa kendaraan, diperbolehkan pulang lebih dari jam 6 dengan alasan kegiatan dan atau diperbolehkan membawa alat elektronik seperti laptop dan ponsel (walaupun masih ada beberapa pondok yang melarang penggunaan ponsel di dalam lingkungan pesantren)

Peraturan dilarang dan atau diperbolehkan membawa ponsel ini menjadi satu hal ringan yang sebetulnya disesuaikan dengan kebutuhan dan situasinya. Kebutuhan juga menjadi satu alasan yang menyebabkan mahasantri mendapat ijin membawa alat elektronik atau kendaraan. Pada pembahasan ini, akan dijelaskan lebih dalam tentang peran santri dalam pemanfaatan atau penggunaan media sosial. Serta bagaimana mahasantri mengimplimentasikan atau menggabungkan proses pembelajaran di pondok serta di kampus dalam penggunaan media sosial di lingkungan kampus.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana Mahasantri di jaman Now ?
  3. Bagaimana peran Media Sosial dalam kehidupan Mahasantri ?
  4. Bagaimana Mahasantri mengimplementasikan Media Sosial di Lingkungan Kampus ?

 

  1. Tujuan
  2. Untuk mengetahui perkembangan santri di jaman atau era millennial
  3. Untuk mengetahui peran Media Sosial dalam kehidupan Mahasantri
  4. Untuk mengetahui bagaimana Mahasantri mengimplementasikan Media Sosial di Lingkungan Kampus

 

  1. ISI
  2.  Mahasantri Jaman Now

Istilah santri, nyantri, dan pesantren ini sebetulnya bukan sesuatu yang asing lagi. Eksistensi santri sudah ada sejak jaman terdahulu. Bahkan kemerdekaan indonesia sendiri tidak lepas dari peran para santri. Labeling ‘tradisional’ yang melekat dalam para santri, sebetulnya bukan menandakan bahwa mereka tidak mengikuti perkembangan zaman dan fokus pada idealismenya. Melainkan, kata tradisional yang melekat ini fokus bahwa pesantren sudah ada sejak dahulu dengan mayoritas orang Indonesia. Sehingga, nilai-nilai kebudayaan melekat pada diri setiap santri karena dalam proses pembelajarannya senantiasa diajarkan kesederhanaan dan kerendahan hati.

Seperti  dalam jurnal karya Hamruni dengan judul eksistensi pesantren dan kontribusinya dalam pendidikan karakter, menyebutkan bahwa pesantren telah turut serta merespon dan berperan dalam perang global sejak jaman dahulu, mulai dari menghadapi kolonialisme bangsa barat yang ketika itu sedang melakukan ekspansi ke negerinegeri jajahannya, termasuk Indonesia. Dan atau memperjuangkan hukum madzhab pada pemerintahan Arab Saudi yang menganut faham wahabi.

Pada era ini, pesantren bukan lagi lembaga tertutup yang hanya mempelajari masalah keislaman. Namun, juga turut serta dalam perkembangan zaman. Menurut penelitian Rofiq A, dkk. Dalam bukunya Pemberdayaan pesantren menyebutkan bahwa pesantren saat ini memiliki lima pola, yaitu; 1. Pesantren yang terdiri hanya masjid dan rumah kiai. 2. Masjid, rumah kiai dan pondok. 3. Masjid, rumah kiai, pondok dan madrasah. 4. Masjid, rumah kiai, pondok, madrasah, dan tempat ketrampilan. 5. Masjid, rumah kiai, pondok, madrasah, tempat ketrampilan, universitas, gedung pertemuan, tempat olahraga, dan sekolah umum. Diperkuat dengan jurnal karya Imam Syafe’i dengan judul Pondok Pesantren;Lembaga Pembentukan Karakter, dimana menyebutkan ada 3 unsur pendidikan di pesantren, yakni; 1) Kyai sebagai pendidik sekaligus pemilik pondok dan para santri; 2) Kurikulum pondok pesantren; dan 3) Sarana -peribadatan dan pendidikan, seperti masjid, rumah kyai, dan pondok, serta sebagian madrasah dan bengkel-bengkel kerja keterampilan.

Pola tersebut menunjukkan bahwa pesantren ber-regenerasi setiap tahunnya. Dengan tetap berdasar pada nilai-nilai ajaran islam.

Santri pada zaman ini-pun paham dan tahu mengenai penggunaan dan atau pemanfaatan dari media sosial. Khususnya, untuk mereka yang juga tergabung dalam lembaga pendidikan, sekolah atau universitas, media sosial justru menjadi tempat alternatif untuk meningkatkan eksistensi santri.

Banyak santri yang akan mengunggah kegiatan mereka di pesantren. Sekedar untuk membagikannya dan menjadi kebahagiaan sendiri, atau ajang untuk berdakwah. Bahkan, tidak jarang lagi santri yang sengaja mengunggah foto profil dalam akun sosial media dengan style santri seperti menggunakan sarung, peci dan atau memegang kitab, sebagai identitas bahwa mereka adalah santri. Bukan hanya itu, santri juga ikut menyumbangkan pemikiran-pemikiran kritisnya dengan mengunggah informasi-informasi yang didapatkan dari belajar di pondok pada beranda akun media sosial mereka. Bahkan ikut menyuarakan aspirasinya.

 

  1. Peran Media Sosial dalam kehidupan Mahasantri

Pada zaman modern ini, media sosial tentulah bukan suatu hal yang asing di telinga siapapun. Dengan berbagai jenisnya mulai dari; Facebook, Instagram, Twiter, WhatsApp, Youtube, Path dan banyak lagi. Media sosial menjadi wadah bagi siapapun untuk mengembangkan bakat maupun sekedar curhat. Tidak hanya di lingkungan masyarakat umum, tapi juga merambah kepada dunia santri. Khusunya, para mahasantri yang paham akan hal-hal terkait sosial media.

Media sosial cukup banyak berpengaruh pada kehidupan para santri. Seperti yang terjadi kebanyakan, bahwa bukan rahasia umum bagi mahasantri memiliki separuh akun dalam sosial media mereka. Para santri ini justru menjadikan media sosial bukan sekedar ‘penghibur’ dari rutinitas yang ada, namun benar-benar memanfaatkannya.

Tuntutan perkembangan zaman serta kebutuhan, membuat mahasantri turut  eksis dalam penggunaan sosial media. Berikut, data dari hasil wawancara singkat mengenai peran media sosial pada kehidupan santri.

 

Nama Apakah pondok anda mengijinkan penggunaan ponsel dan alat elektronik lainnya termasuk penggunaan sosial media? Bagaimana pendapat anda mengenai mahasiswa/i santri yang diijinkan menggunakan ponsel dan memiliki sosial media?

 

Apa pengertian Media Sosial menurut anda? Biasanya biasanya anda menggunakan Media Sosial? (misal: updatestatus, promosi dll) Bagaimana anda mengimplementasikan penggunaan media sosial dalam lingkungan kampus?
Bikrotul Azizah/TBI/5 Ya Tidak masalah, karena memang di butuhkan dan kita tidak bisa menutup diri dari Sosmed. Untuk masalah penggunaan, kembali kepada diri masing-masing. Sarana menghidupkan silaturahmi dari yang jauh menjadi dekat. Sebagai sumber informasi dan komunikasi. Share event lomba menulis, galang dana dan link website seminar atau lomba tulis-menulis.
Siti Lailatul M/TBI/5 Ya Setuju karena di butuhkan. Tempat mencari informasi dan alat komunikasi. Searching dan alat komunikasi. -
Fidda Rifqi Azizah/PGMI/5 Ya Baik Tempat berbagi informasi. Untuk semua hal. Pernah jualan.
Irma/PAI/3 Ya Setuju, karena sekarang adalah jaman digital. Media untuk berkarya, menginspirasi dan berdakwah. Update, dakwah dan jualan. Promosi membaca (dakwah)
Asbahul Khuri/ES/7 Ya Boleh selama tidak menganggu rutinitas pondok. Alat komunikasi yang dampaknya bisa positifatau negatif. Untuk semua hal. Sebagai alternatif media pembelajaran. Seperti mendownload ebook.
Muhammad Faizun/PAI/5 Ya Baik dan tidaknya ponsel tergantung penggunanya. Diary masa kini. Sumber informasi dan sarana komunikasi.
Auli Aggi Pratiwi/PAI/1

 

 

 

 

 

Boleh Setuju Sebuah media daring, dimana para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, WIFI, forum dan dunia virtual. - -
Erika Wijayanti Arifah/PAI/8 Tidak, kecuali semester 8 yang sudah mengerjakan skripsi dan ketua serta keamanan pusat. Asal sewajarnya dan sesuai zaman Alat iformasi, khusunya di zaman seperti ini. Mengetahui informasi, pengetahuan dan hiburan. Sarana berdakwah.
Ayyu Fita Amalia/TBI/5 Tidak, kecuali pengurus. Sedang mahasantri hanya di perbolehkan ketika jam kuliah dan saat mengerjakan tugas. Digunakan sebijak mungkin. Sarana komunikasi yang memiliki dua mata pisau. Artinya, kalau penggunanya bijak pasti dapat memanfaatkannya dengan baik. Kalau tidak pasti bisa kebablasan. Update status dan sarana berdakwah. Mengetahui jati diri.
Tri Tunggalyati/AFI/3 Diperbolehkan hanya pada jam tertentu. Bagus karena berada di jaman modern. Jangan sampai santri menjadi GapTek (gagap teknologi). Alat komunikasi menggunakan jejaring atau alat elektronik. Searching berita baru. Diskusi.
Shofiyatul Munawaroh/PAI/7 Tidak. Kurang setuju, karena belum terlalu membutuhkan. Tempat penyebarkebaikan, bukan hanya untuk pamer. Jualan (Olshop) dan memberi kabar keluarga. Alat menjaga silaturahmi.

 

Dari data di atas, terdapat 7 anak dari 6 pondok berbeda yang diperbolehkan membawa ponsel. 3 anak dari 3 pesantren yang membolehkan penggunaan ponsel hanya di waktu tertentu, serta 1 anak dari 1 pondok yang benar-benar tidak diperbolehkan membawa ponsel. Dan dari jawaban tersebut, semuanya menggunakan media sosial baik sebagai alat komunikasi maupun informasi. Jadi, dapat disimpulkan, bahwa peran media sosial dalam kehidupan mahasantri adalah sebagai berikut;

  1. Menjadi wadah bagi mahasantri untuk bertukar kabar kepada saudara maupun teman
  2. Sebagai sarana dakwah

  • Mencari informasi

  1. Menambah uang saku dengan adanya Olshop (online shoping)

Karenanya, peran media sosial dalam kehidupan mahasantri, memberikan pengaruh besar di era millenial ini.

  1. Implementasi Media Sosial Mahasantri di Lingkungan Kampus

Seperti dikutip dalam bukunya Abd A’la dengan judul Pembaruan Pesantren, halaman 31 yang menyatakan bahwa, sebagai lembaga pendidikan agama sekaligus bagian komunitas dunia yang menjunjung tinggi nila-nilai moral keagamaan, pesantren dituntut pula menyikapi realitas kehidupan sebagai persoalan kemanusiaan.

Melihat dari kutipan diatas, dapat dikatakan bahwa sebuah keharusan pesantren dapat menghadapti problematika yang terjadi dengan adanya perkembangan zaman. Salah satu hal yang paling menonjol yakni adanya media sosial. Walaupun perguruan tinggi atau universitas juga menjadi satu hal yang dijadikan tolak ukur perkembangan zaman, namun berbeda dengan peran sosial media yang mendominasi lingkungan pesantren. Dikutip dalam bukunya Dr. Nurcholis Majid dengan judul Bilik-bilik Pesantren halaman 111, menjelaskan bahwa perguruan tinggi dan pesantren adalah dua tradisi pendidikan yang berbeda. Perguruan tinggi merupakan gejala di perkotaan, sedangkan pesantren merupakan gejala di pedesaan. Perguruan tinggi identik dengan kemodernan, pesantren identik dengan ketradisionalan. Perguruan tinggi lebih menekankan pendidikan bersifat liberal, pesantren lebih mnekankan sikap konservatif yang bersandar karena berpusat pada figur kiai, dan seterusnya.

Sehingga dalam kasus ini, pesantren sejak abad 21 atau masuknya era globalisasi sudah mengalami perubahan. Dan penggunaan sosial media ini, juga di implementasikan oleh para santri termasuk mahasantri dengan cukup baik. Tidak sekedar sebagai penghibur, namun juga hal-hal bermanfaat lainnya, seperti;

 

 

 

 

Setelah mahasantri mengunggah poostingan atau membagikan postingan yang mereka dapat dari pembelajaran di pondok pesantren dan berhubungan dengan kegiatan kampus maupun tidak. Biasanya, mereka akan mengulang kembali dan mengajak diskusi temannya untuk mengembangkan lebih lanjut opini dan serta memecahkan masalah.

Pemanfaatan media sosial yang implementasinya terlihat langsung di kalangan kampus adalah promosi jualan. Berawal dari olshop dengan membagikan dagangan merea melalui akun media sosial. Setelahnya, mahasantri akan melakukan oral untuk meyakinkan produk mereka, dan atau membawa langsung contoh produk itu sendiri.

  1. Ajang mengikuti event perlombaan.

Bagi yang sering mengikuti event perlombaan, mahasantri akan meengimplementasikan media sosial di kampus dengan berbagi informasi terkait perlombaan yang sesuai di bidangnya. Bertukar informasi dengan pencinta hal yang sama.

Ketika mahasantri mengunggah postingan dalam media sosial dan mendapat komentar yang kebetulan berada di pondok atau kampus yangsama. Ketika sebelumnya belum salingtahu. Dengan adanya medsos, mahasantri memanfaatkan waktunya di kampus untuk dapat bertemu langsung dengan pemberi komentar.

Salah satu yang juga sering di implementasikan mahasantri dalam penggunaan media sosial adalah berdakwah. Membagikan alamat website atau link dalam grup dan atau akun yang dimiliki, kemudian bertemu dengan subjeknya di kampus secara langsung.

Dari beberapa poin diatas, dapat disimpulkan bahwa mahasantri tidak sekedar memanfaatkan media untuk ajang senang-senang, tapi juga menggunakannya dengan bijak dan baik. Diluar oknum-oknum yang ada.

  • PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari situasi yang ada, kenyataan di lapangan menjelaskan bahwasanya peran mahasantri dalam pemanfaatan media sosial memiliki pengaruhnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan hal tersebut di implementasikan dalam lingkungan kampus. Dengan melalui sosial media sebagai perantara, kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Karenanya, pada era ini, pesantren dan santri yang turut menjadi mahasiswa, bukan menjadikan mereka tidak tahu-menahu perkembangan globalisasi. Para santri justru mampu lebih bijak dalam penggunaannya. Memanfaatkan dengan baik dan disesuaikan dengan kebutuhan. Bukan hanya itu, mahasantri tetap harus menjaga nilai-nilai yang diberikan pesantren dalam kehidupan sebab berlandaskan ajaran agama. Namun, tidak menutup mata dan diri dari perkembangan zaman. Agar eduanya mampu bekerja beriringan dan mencapai masa depan pesantren serta generasi bangsa yang berkualitas.

 

  1. Referensi

Abd A’la, Pembaharuan Pesantren, PT LKiS Pelangi Aksara, Yogyakarta;2006

Dr. Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren:Sebuah Potret Perjalanan, Penerbit Paramadina, Jakarta;1997

Rofiq A. dkk, Pemberdayaan Pesantren, PT LKiS Pelangi Aksara Yogyakarta, Yogyakarta;2005

Hamruni dan Ricky Satria W, Eksistensi Pesantren dan Kontribusinya dalam Pendidikan Karakter,

Imam Syafe’I, Pondok Pesantren:Lembaga Pendidikan Pembentukan Karakter, Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, Volume 8, Mei 201729740216 209186086343633 3981528159060230144 N

PELANTIKAN IPNU IPPNU PAC KANDANGAN

Pengurus Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung resmi dilantik, Jumat (16/02/2018). Prosesi pelantikan ini &hell

Konferensi Anak Cabang Parakan dan Pelantikan Massal

Pimpinan Anak Cabang Parakan Temanggung pada Ahad (27/1) telah melaksanakan konferancab dan pelantikan massal. Konferancab ini menghasilkan beberapa keputusan penting khususnya reorganisasi kepengurusan masa khidmat &hell

Berbagi Untuk Sesama, IPNU IPPNU Ranting Bengkal Jadi Sorotan

Tak kurang 40 anggota PR. IPNU IPPNU désa Bengkal mengikuti kegiatan pentasyarufan bagi warga yang membutuhkan. Kegiatan ini menyasar warga kurang mampu dan anak yatim &hell

Pentingnya Upgrading Sebagai Gerakan Kaderisasi

Setelah sekian lama NU tertidur dalam zona nyaman, di era Digitalisasi ini NU mengalami tamparan keras saat ideologi rahmatan lil alamin-nya diusik oleh sekelompok golongan &hell

Jl. Jenderal Sudirman No.60, Jampirejo Barat, Jampirejo, Kec. Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah 56218